Sabtu, 11 Mei 2013

Perhitungan Tenaga Perawat



TUGAS KELOMPOK

MANAJEMEN KEPERAWATAN

“PERHITUNGAN KEBUTUHAN TENAGA PERAWAT”



Disusun Oleh :
NAMA KELOMPOK
1.        FERI TRI ARTANTO                            (NIM. 0101040021)
2.        HALVIZAH H                                         (NIM. 0101040076)
3.        JOHN LENON TATIPATA                  (NIM. 0101040009)
4.        NUR ROKHMAN WAKHID                (NIM. 0101040122)
5.        PETRUS YULIANTO                            (NIM. 0101040013)
6.        RAMADHAN TRYBAHARI S (NIM. 0101040078)


Dosen Pengampuh : dr. Jon Paat, Sp. R


Uncen wana1







PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2013


METODE PERHITUNGAN KEBUTUHAN TENAGA PERAWAT


1.      METODE RASIO
Metode ini menggunakan jumlah tempat tidur sebagai denominator personal yang diperlukan. Metode ini paling sering digunakan karena sederhana dan mudah.
Metode ini hanya mengetahui jumlah personal secara total tetapi tidak bisa mengetahui produktivitas SDM rumah sakit, dan kapan personal tersebut dibutuhkan oleh setiap unit atau bagian rumah sakit yang mebutuhkan.
Bisa digunakan bila : kemampuan dan sumber daya untuk perencanaan personal terbatas, jenis, tipe, dan volume pelayanan kesehatan relatif stabil.
Tujuan dari metode ini adalah merencanakan kebutuhan tenga kesehatan dengan membandingkan ketersediaan tempat tidur di unit-unit perawatan sesuai dengan tipe institusi layanan kesehatan yang tersedia.
Cara rasio yang umumnya digunakan adalah berdasarkan surat keputusan Menkes R.I. Nomor 262 tahun 1979 tentang ketenagaan rumah sakit, dengan standar sebagai berikut :

ü  Peraturan Menkes RI No. 262/Menkes/Per/VII/1979
Tipe RS
TM/TT
TPP/TT
TPNP/TT
TNM/TT
A dan B
1 / (4 – 7)
(3 – 4) / 2
1 / 3
1 / 1
C
1 / 9
1 / 1
1 / 5
3 / 4
D
1 / 15
1 / 2
1 / 6
2 / 3
Khusus
Disesuaikan
Disesuaikan
Disesuaikan
Disesuaikan
Keterangan :
TM = Tenaga Medis
TT = Tempat Tidur
TPP = Tenaga Para Medis Perawatane
TPNP = Tenaga Para Medis Non Perawatan
TNP = Tenaga Non Medis

Cara perhitungan ini masih ada yang menggunakan, namun banyak rumah sakit yang lambat laun meninggalkan cara ini karena adanya beberapa alternatif perhitungan yang lain yang lebih sesuai dengan kondisi rumah sakit dan profesional.

2.      METODE NEED
Cara ini dihitung berdasarkan kebutuhan menurut beban kerja yang diperhitungkan sendiri dan memenuhi standar profesi. Untuk menghitung seluruh kebutuhan tenaga, diperlukan terlebih dahulu gambaran tentang jenis pelayanan yang diberikan kepada klien selama di rumah sakit. Diskripsi tentang pelayanan yang diberikan kepada pasien. Misalnya saja untuk klien yang berobat jalan, ia akan melalui/mendapatkan pelayanan, antara pembelian karcis, pemeriksaan perawat/dokter, penyuluhan, pemeriksaan laboratorium, apotik dan sebagainya. Kemudian dihitung standar waktu yang diperlukan agar pelayanan itu berjalan dengan baik. (Hudgin’s 82).
Menurut Hundgins (1992) menggunakan standar waktu pelayanan pasien adalah sebagai berikut :
Tugas
Lama waktu (menit) untuk Pasien
Baru
Lama
Pendaftaran
3
4
Pemerikasaan dokter
15
11
Pemeriksaan asisten dokter
18
11
Penyuluhan
51
0
Laboratorium
5
7

3.      METODE DOUGLAS
Untuk pasien rawat inap, Douglas (1984) menyampaikan standar waktu pelayanan pasien rawat inap sebagai berikut :
1)      Perawatan minimal memerlukan waktu : 1 - 2 jam/24 jam
2)      Perawatan intermediet/parsial memerlukan waktu : 3 - 4 jam/24 jam
3)      Perawatan maksimal/total memerlukan waktu : 5 - 6 jam/24 jam

Dalam penerapan sistem klasifikasi pasien dengan tiga kategori tersebut di atas adalah sebagai berikut :
a.      Kategori I : Self Care / Perawatan Mandiri (Minimal)
Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik, tidak ada reaksi emosional, pasien memerlukan orientasi waktu, tempat dan pergantian shift, tindakan pengobatan biasanya ringan dan simpel.
Asuhan keperawatan minimal mempunyai kriteria sebagai berikut ::
1.      Kebersihan diri, mandi ganti pakaian dilakukan sendiri
2.      Makan dan minum dilakukan sendiri
3.      Ambulansi dengan pengawasan
4.      Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap jaga (shift)
5.      Pengobatan minimal dengan status psikologis stabil
6.      Persiapan prosedur memerlukan pengobatan

b.      Kategori II : Intermediet Care / Perawatan Sedang(Partial)
Kegiatan sehari-hari untuk makan dibantu, mengatur posisi waktu makan. memberi dorogan agar mau makan,eliminasi dan kebutuhan diri juga dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar mandi.Penampilan pasien sakit sedang.Tindakan perawatan pada pasien ini monitor tanda-tanda vital,periksa urine reduksi,fungsi fisiologis,status emosinal,kelancaran drainage atau infus.Pasien memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk support emosi 5-10 menit/shift atau 30-60 menit/shiftdengan mengobservasi side efek obat atau reaksi alergi.
Asuhan keperawatan parsial mempunyai kriteria sebagai berikut :
1.      Kebersihan diri dibantu, makan dan minum dibantu
2.      Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam  sekali
3.      Ambulansi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4.      Pasien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran intake output cairan dicatat / dihitung.
5.      Pasien dengan infus, persiapan pengobatan yang memerlukan prosedur

c.       Kategori III : Intensive Care / Perawatan Total
Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan sendiri,semua dibantu oleh perawat penampian sakit berat.pasien memerlukan observasi terus-menerus.
Asuhan keperawatan total  mempunyai kriteria sebagai berikut :
1.      Semua keperluan pasien dibantu
2.      Perubahan posisi, observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap 2 jam
3.      Makan melalui slang ( NGT / pipa lambung ), terapi intravena
4.      Dilakukan penghisapan lender (suction)
5.      Gelisah / disorientasi.

Berdasarkan kategori tersebut, didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada pagi, sore dan malam sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien :
No
Klasifikasi Pasien
Minimal
Parsial
Total
Pagi
Siang
Malam
Pagi
Siang
Malam
Pagi
Siang
Malam
1
0,17
0,14
0,07
0,27
0,15
0,10
0,36
0,30
0,20
2
0,34
0,28
0,14
0,54
0,30
0,20
0,72
0,60
0,40
3
0,51
0,42
0,21
0,81
0,45
0,30
1.08
0,90
0,60
dst









Sumber : Dauglas (1984)

Berdasarkan derajat ketergantungan, identifikasi jumlah pasien yang dirawat dilakukan dengan mengikuti panduan sebagai berikut :
  1. Dilakukan 1x sehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh perawat yang sama selama beberapa hari sesuai kebutuhan, dengan menggunakan format klasifikasi pasien berdasarkan derajat ketergantungan
  2. Setiap pasien dinilai berdasarkan kriteria klasifikasi pasien (minimal memenuhi 3 kriteria)
  3. Pasien dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi tersebut dengan memberi tanda (I) pada kolom yang tersedia sehingga dalam waktu 1 hari dapat diketahui beberapa jumlah pasien dengan klasifikasi minimal, parsial dan total.
  4. Bila pasien hanya mempunyai 1 kriteria dari klasifikasi tersebut, maka pasien dikelompokkan pada klasifikasi diatasnya.

4.      METODE DEMAND
Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga mennurut kegiatan yang memang nyata dilakukan oleh perawat. Konversi Kebutuhan Tenaga adalah seperti pada perhitungan cara Need.

Menurut Tutuko (1992) setiap klien yang masuk Ruang Gawat Darurat dibutuhkan waktu sebagai berikut :
* Untuk Kasus Gawat Darurat : 86,31 menit à 87 menit
* Untuk Kasus Mendesak : 71,28 menit à 71 menit
* Untuk Kasus Tidak Mendesak : 33,69 menit à 34 menit

Menurut Depkes Filipina (1984) kebutuhan pasien adalah sebagai berikut :
Jenis Pelayanan
Rata-rata jam perawatan/ pasien/hari
Non Bedah (Interna)
3,4 jam
Bedah
3,5 jam
Campuran Bedah dan Non Bedah (Interna)
3,5 jam
Post Partum
3,0 jam
Bayi Baru Lahir
2,5 jam
Anak – anak
4,0 jam

Menurut Althaus et al 1982 dan Kirk 1981 adalah sebagai berikut :
§  Level I (Minimal) : 3,2 jam.
§  Level II (Intermediate) : 4,4 jam.
§  Level III (Maksimal) : 5,6 jam.
§  Level IV (Intensif Care) : 7,2 jam.
Catatan : BOR = * PT * TT

5.      METODE GILLIES
ü  Gillies (1989) mengemukakan rumus kebutuhan tenaga keperawatan di satu unit perawatan adalah sebagai berikut :

Keterangan :
A = rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari
B = rata-rata jumlah pasien /hari
C = Jumlah hari/tahun
D = Jumlah hari libur masing-masing perawat
E = jumlah jam kerja masing-masing perawat
F = Jumlah jam perawatan yang dibutuhkan per tahun
G = Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun
H = Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit tersebut




ü  Gillies (1994) mengemukakan rumus Kebutuhan Tenaga Keperawatan adalah sebagai berikut :

 

Keterangan :
TP       : Tenaga Perawat
A         : Rata-rata jam perawatan/hari
B         : Sensus harian rata-rata (Rumus sensus harian : TT x BOR)
C         : Jumlah hari libur
365      : Jumlah hari kerja selama setahun

Prinsip perhitungan rumus Gillies
Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada 3 jenis bentuk pelayanan, yaitu :
·         Perawatan langsung adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada hubungan secara khusus dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Jumlah Jam keperawatan yang dibutuhkan klien perhari untuk waktu keperawatan langsung (rata rata 4 - 5 jam/klien/hari). Berdasarkan tingkat ketergantungan pasien padfa perawat maka dapat diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu: self care, partial care, total care dan intensive care.
Menurut Minetti Huchinson (1994) Kebutuhan Keperawatan Langsung setiap pasien adalah empat jam perhari sedangkan untuk :
* Self Care dibutuhkan ½ x 4 jam : 2 jam
* Partial Care dibutuhkan ¾ x 4 jam : 3 jam
* Total Care dibutuhkan 1- 1½ x 4 jam : 4 - 6 jam
* Intensive Care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam

·         Perawatan tak langsung, meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan, memasang/ menyiapkan alat, konsultasi dengan anggota tim, menulis dan membaca catatan kesehatan, melaporkan kondisi pasien. Dari hasil penelitian sebagai berikut :
-    RS Graha Detroit (Gillies, 1989, hal. 245) = 38 menit/ klien/ hari, sedangkan
-    Menurut Wolfe & Young (Gillies, 1989, hal. 245) = 60 menit/ klien/ hari
-    Penelitian di Rumah Sakit John Hpokins dibutuhkan 60 menit/pasien (Gillies, 1994)

·         Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi : aktifitas, pengobatan serta tindak lanjut pengobatan.
-    Menurut Mayer dalam Gillies (1994), waktu yang dibutuhkan untuk pendidikan kesehatan / penyuluhan kesehatan  ialah 15 menit/klien/hari = 0,25 jam/klien/hari
-    Rata-rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatu unit berdsasarkan rata-ratanya atau menurut “Bed Occupancy Rate” (BOR) dengan rumus :
v  Jumlah hari pertahun, yaitu 365 hari.
v  Hari libur masing-masing perawat pertahun, yaitu 128 hari, hari minggu = 52 hari dan hari sabtu  = 52 hari. Untuk hari sabtu tergantung kebijakan RS setempat, kalau ini merupakan hari libur maka harus diperhitungkan, begitu juga sebaliknya, hari libur nasional = 12 hari dan cuti tahunan = 12 hari.
v  Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja efektif 5 hari maka 40/5 = 8 jam, kalu hari kerja efektif 6 hari per minggu maka 40/6 jam = 6,6 jam perhari)
v  Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan di satu unit harus ditambah 20% (untuk antisiapasi kekurangan/cadangan)
v  Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional = 55% : 45 %

5.      METODE SWANSBURG


Menurut Warstler dalam Swansburg dan Swansburg (1999), merekomendasikan untuk pembagian proporsi dinas dalam satu hari → pagi : siang : malam = 47 % : 36 % : 17 %, sehingga jika jumlah total staf keperawatan /hari = 14 orang.
*Pagi : 47% x 14 = 6,58 = 7 orang
*Sore : 36% x 14 = 5,04 = 5 orang
* Malam : 17% x 14 = 2,38 = 2 orang

6.      METODE NINA
Nina (1990) menggunakan 5 tahapan dalam menghitung kebutuhan tenaga adalah sebagai berikut :
1)      Tahap I
Hitung A : Jumlah jam perawatan dalam 24 jam perpasien.
2)      Tahap II
Hitung B : A x TT.
3)      Tahap 3
Hitung C : Jumlah jam perawatan seluruh pasien selama 1 tahun. (C = B x 365)
4)      Tahap IV
Hitung D : Jumlah perkiraan realistis jam perawatan yang perawatan yang dibutuhkan selama 1 tahun.(D = C x BOR / 80)
5)      Tahap V
Diperoleh E : Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan. (E = D / 1878)
§ Hari efektif – 52 dan jam kerja.
§ Efektif perhari (8-2 jam).




7.      METODE HASIL LOKAKARYA KEPERAWATAN
Menurut hasil lokakarya keperawatan (Depkes RI, 1989), rumusan yang dapat digunakan untuk perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan adalah sebagai berikut :


Prinsip perhitungan rumus ini adalah sama dengan rumus dari Gillies (1989) diatas, tetapi ada penambahan pada rumus ini yaitu 25% untuk penyesuaian ( sedangkan angka 7 pada rumus tersebut adalah jumlah hari selama satu minggu).

8.      METODE HASIL WORKSHOP PERAWATAN DI CILOTO (1971)
Jumlah perawat : Pasien = 5 : 9 /shift, dengan 3 shift/24 jam dengan perhitungan adalah sebagai berikut :
§ Hari kerja efektif/tahun : 225 – 260 hari.
§ Libur mingguan : 52 hari.
§ Cuti tahunan : 12 hari.
§ Hari besar : 10 hari.
§ Sakit/Izin : 12 hari.
§ Cuti hamil rata-rata : 29 hari.

9.      METODE STANDAR KETENAGAAN PERAWAT DAN BIDAN DI RUMAH SAKIT
Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga perawat dan bidan menurut direktorat pelayanan keperawatan Dirjen Yan-Med Depkes RI (2001) dengan memperhatikan unit kerja yang ada pada masing-masing rumah sakit.
Model pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :

A.    RAWAT INAP
Berdasarkan klasifikasi pasien, cara perhitungannya berdasarkan sebagai berikut :
·   Tingkat ketergantungan pasien berdasarkan jenis kasus
·   Rata-rata pasien per hari
·   Jumlah perawatan yang diperlukan / hari / pasien
·   Jam perawatan yang diperlukan/ ruanagan / hari
·   Jam kerja efektif tiap perawat atau bidan 7 jam per hari

v  Formula Rawat Inap :




No
Jenis kategori
Rata – rata pasien / hari
Rata- rat jam perawatpasien /hari *
Jumlah jam perawat/hari (cxd)
a
B
c
d
E
1
2
3
4
5
Pasien Penyakit Dalam
Pasien bedah
Pasien gawat
Pasien anak
Pasien kebidanan
10
8
1
3
1
3,5
4
10
4,5
2,5
35
32
10
13,5
2,5

Jumlah
23

93,0
Keterangan  :
*Berdasarkan penelitian dari luar negeri

Jadi, jumlah tenaga keperawatan yang diperlukan adalah :


Untuk penghitungan jumlah tenaga tersebut perlu ditambah (Faktor Koreksi) dengan :
·   Hari Libur/Cuti/Hari Besar (Loss Day)



·   Perawat atau bidan yang mengejakan tugas-tugas non-profesi (Non - Nursing Jobs), seperti : membuat perincian pasien pulang, kebersihan ruangan, kebersihan alat-alat makan pasien, dll. Diperkirakan 25% dari jam pelayanan keperawatan.

TP = (Jumlah tenaga perawat + loss day) x 25% = (13 + 3,5) x 25% = 4,1

Jadi jumlah tenaga yang diperlukan= tenaga yang tersedia + factor koreksi = 13 + 3,5 + 4,1 = 20,6 (dibulatkan menjadi 21 orang perawat/bidan)

Tingkat Ketergantungan Pasien
Pasien diklasifikasikan berdasarkan pasda kebutuhan terhadap asuhan keperawatan/asuhan kebidanan, meliputi :
a)      Asuhan keperawatan minimal
b)      Asuhan keperawatan sedang
c)      Asuhan keperawatan agak berat
d)     Asuhan keperawatan maksimal

No
Kategori*
Rata – rata  jumlah pasien/hari
Jumlah jam perawat/hari **
Jumlah jam perawatan ruangan/hari (cxd)
a
b
C
d
e
1
2
3
4
Askep minimal
Askepsedang
Askep agak berat
Askep maksimal
7
7
11
1
2,00
3,08
4,15
6,16
14,00
21,56
45,56
6,16

Jumlah
26

87,37
Keterangan :
*          : Uraian ada pada model Gillies di halaman depan
**        : Berdasarkan penelitian di luar negeri

Jadi, jumlah perawat yang dibutuhkan adalah :


Ditambah (Faktor Koreksi) dengan :
·   Loss Day :

·   Non-Nursing Jobs 25% :
(Jumlah tenaga perawat + loss day) x 25% = (12,5 + 3,4) x 25% = 3,9

Jadi, jumlah tenaga yang diperlukan =  tenaga yang tersedia + faktor koreksi = 12,5 + 3,4 + 3,9 = 19,8 (dibulatkan menjadi 20 orang perawat/bidan)


B.     RAWAT JALAN
Dasar perhitungan jumlah tenaga untuk Rawat Jalan adalah sebagai berikut :
a)      rata-rata jumlah pasien perhari
b)      Jumlah jam perawatan perhari

v  Formula Rawat Jalan :




C.    UNIT GAWAT DARURAT (UGD)
Dasar perhitungan jumlah tenaga di Unit Gawat Darurat adalah sebagai berikut :
a)      rata-rata jumlah pasien perhari
b)      Jumlah jam perawatan perhari
c)      Jam efektif perhari

v  Formula Unit Gawat Darurat (UGD) :



Keterangan :
TP = Tenaga perawat
365 = Jumlah hari kerja
255 = Hari kerja efektif perawat/tahun
D = Jam keperawatan
A1 = Waktu perawatan untuk pasien gawat darurat (87 menit)
A2 = Waktu perawatan untuk pasien kasus mendesak (71 menit)
A3 = Waktu perawatan untuk pasien kasus tidak mendesak (34 menit)
Adm time = Waktu administrasi yang dibutuhkan untuk penggantian sif selama 45 menit

D.    KAMAR OPERASI
Dasar perhitungan jumlah tenaga di Kamar Operasi adalah sebagai berikut :
a)      Jumlah dan jenis operasi
b)      Jumlah kamar operasi
c)      Pemakain kamar operasi (diprediksi 6 jam perhari) pada hari kerja
d)     Tugas perawat di kamar operasi: instrumentator, perawat sirkulasi (2 orang/tim)
e)      Tingkat ketergantungan pasien :
Ø  Operasi Besar : 5 jam/1operasi
Ø  Operasi Sedang : 2 jam/1operasi
Ø  Operasi Kecil : 1 jam /1operasi

v  Formula Kamar Operasi :
                                                           



TUGAS MANAJEMEN KEPERAWATAN

1.      Sebutkan dan uraikan masing-masing metode Perhitungan Kebutuhan Tenaga Perawat di Ruangan :
·   Rawat Inap
·   Rawat Jalan
·   UGD
·   Kamar Operasi

JAWABAN :

A.    RAWAT INAP

v  METODE STANDAR KETENAGAAN PERAWAT DAN BIDAN DI RUMAH SAKIT
Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga perawat dan bidan menurut direktorat pelayanan keperawatan Dirjen Yan-Med Depkes RI (2001) dengan memperhatikan unit kerja yang ada pada masing-masing rumah sakit. Model pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Berdasarkan klasifikasi pasien, cara perhitungannya adalah sebagai berikut :
§ Tingkat ketergantungan pasien berdasarkan jenis kasus
§ Rata-rata pasien per hari
§ Jumlah perawatan yang diperlukan / hari / pasien
§ Jam perawatan yang diperlukan/ ruanagan / hari
§ Jam kerja efektif tiap perawat atau bidan 7 jam per hari

*      Formula Rawat Inap :


No
Jenis kategori
Rata – rata pasien / hari
Rata- rat jam perawatpasien/hari *
Jumlah jam perawat/hari
( c x d )
a
B
c
d
e
1
2
3
4
5
Pasien Penyakit Dalam
Pasien bedah
Pasien gawat
Pasien anak
Pasien kebidanan
10
8
1
3
1
3,5
4
10
4,5
2,5
35
32
10
13,5
2,5

Jumlah
23

93,0
Keterangan  :
* Berdasarkan penelitian dari luar negeri
Jadi, jumlah tenaga keperawatan yang diperlukan adalah :


Untuk penghitungan jumlah tenaga tersebut perlu ditambah (Faktor Koreksi) dengan :
·   Hari Libur/Cuti/Hari Besar (Loss Day)



·   Perawat atau bidan yang mengejakan tugas-tugas non-profesi (Non - Nursing Jobs), seperti : membuat perincian pasien pulang, kebersihan ruangan, kebersihan alat-alat makan pasien, dll. Diperkirakan 25% dari jam pelayanan keperawatan.
TP = (Jumlah tenaga perawat + loss day) x 25% = (13 + 3,5) x 25% = 4,1

Jadi jumlah tenaga yang diperlukan= tenaga yang tersedia + factor koreksi = 13 + 3,5 + 4,1 = 20,6 (dibulatkan menjadi 21 orang perawat/bidan)

Tingkat Ketergantungan Pasien
Pasien diklasifikasikan berdasarkan pasda kebutuhan terhadap asuhan keperawatan/asuhan kebidanan, meliputi :
a)      Asuhan keperawatan minimal
b)      Asuhan keperawatan sedang
c)      Asuhan keperawatan agak berat
d)     Asuhan keperawatan maksimal

No
Kategori*
Rata – rata  jumlah pasien/hari
Jumlah jam perawat/hari **
Jumlah jam perawatan ruangan/hari
( c x d )
a
b
c
d
e
1
2
3
4
Askep minimal
Askepsedang
Askep agak berat
Askep maksimal
7
7
11
1
2,00
3,08
4,15
6,16
14,00
21,56
45,56
6,16

Jumlah
26

87,37
Keterangan :
* Uraian ada pada model Gillies di halaman depan
** Berdasarkan penelitian di luar negeri

Jadi, jumlah perawat yang dibutuhkan adalah :


Ditambah (Faktor Koreksi) dengan :
·   Loss Day :

·   Non-Nursing Jobs 25% :
(Jumlah tenaga perawat + loss day) x 25% = (12,5 + 3,4) x 25% = 3,9

Jadi, jumlah tenaga yang diperlukan =  tenaga yang tersedia + faktor koreksi = 12,5 + 3,4 + 3,9 = 19,8 (dibulatkan menjadi 20 orang perawat/bidan)

v  METODE DOUGLAS
Untuk pasien rawat inap, Douglas (1984) menyampaikan standar waktu pelayanan pasien rawat inap sebagai berikut :
1)      Perawatan minimal memerlukan waktu : 1 - 2 jam/24 jam
2)      Perawatan intermediet/parsial memerlukan waktu : 3 - 4 jam/24 jam
3)      Perawatan maksimal/total memerlukan waktu : 5 - 6 jam/24 jam

Dalam penerapan sistem klasifikasi pasien dengan tiga kategori tersebut di atas adalah sebagai berikut :
a.      Kategori I : Self Care / Perawatan Mandiri (Minimal)
Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik, tidak ada reaksi emosional, pasien memerlukan orientasi waktu, tempat dan pergantian shift, tindakan pengobatan biasanya ringan dan simpel.
Asuhan keperawatan minimal mempunyai kriteria sebagai berikut ::
1.      Kebersihan diri, mandi ganti pakaian dilakukan sendiri
2.      Makan dan minum dilakukan sendiri
3.      Ambulansi dengan pengawasan
4.      Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap jaga (shift)
5.      Pengobatan minimal dengan status psikologis stabil
6.      Persiapan prosedur memerlukan pengobatan

b.      Kategori II : Intermediet Care / Perawatan Sedang(Partial)
Kegiatan sehari-hari untuk makan dibantu, mengatur posisi waktu makan. memberi dorogan agar mau makan,eliminasi dan kebutuhan diri juga dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar mandi.Penampilan pasien sakit sedang.Tindakan perawatan pada pasien ini monitor tanda-tanda vital,periksa urine reduksi,fungsi fisiologis,status emosinal,kelancaran drainage atau infus.Pasien memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk support emosi 5-10 menit/shift atau 30-60 menit/shiftdengan mengobservasi side efek obat atau reaksi alergi.
Asuhan keperawatan parsial mempunyai kriteria sebagai berikut :
1.      Kebersihan diri dibantu, makan dan minum dibantu
2.      Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam  sekali
3.      Ambulansi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4.      Pasien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran intake output cairan dicatat / dihitung.
5.      Pasien dengan infus, persiapan pengobatan yang memerlukan prosedur

c.       Kategori III : Intensive Care / Perawatan Total
Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan sendiri,semua dibantu oleh perawat penampian sakit berat.pasien memerlukan observasi terus-menerus.
Asuhan keperawatan total  mempunyai kriteria sebagai berikut :
1.      Semua keperluan pasien dibantu
2.      Perubahan posisi, observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap 2 jam
3.      Makan melalui slang ( NGT / pipa lambung ), terapi intravena
4.      Dilakukan penghisapan lender (suction)
5.      Gelisah / disorientasi.

Berdasarkan kategori tersebut, didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada pagi, sore dan malam sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien :
No
Klasifikasi Pasien
Minimal
Parsial
Total
Pagi
Siang
Malam
Pagi
Siang
Malam
Pagi
Siang
Malam
1
0,17
0,14
0,07
0,27
0,15
0,10
0,36
0,30
0,20
2
0,34
0,28
0,14
0,54
0,30
0,20
0,72
0,60
0,40
3
0,51
0,42
0,21
0,81
0,45
0,30
1.08
0,90
0,60
dst









Sumber : Dauglas (1984)

v  METODE GILLIES
ü  Gillies (1989) mengemukakan rumus kebutuhan tenaga keperawatan di satu unit perawatan adalah sebagai berikut :

Keterangan :
A = rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari
B = rata-rata jumlah pasien /hari
C = Jumlah hari/tahun
D = Jumlah hari libur masing-masing perawat
E = jumlah jam kerja masing-masing perawat
ü  Gillies (1994) mengemukakan rumus Kebutuhan Tenaga Keperawatan adalah sebagai berikut :


Keterangan :
TP       : Tenaga Perawat
A         : Rata-rata jam perawatan/hari
B         : Sensus harian rata-rata (Rumus sensus harian : TT x BOR)
C         : Jumlah hari libur
365      : Jumlah hari kerja selama setahun

Prinsip perhitungan rumus Gillies
Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada 3 jenis bentuk pelayanan, yaitu :
·         Perawatan langsung adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada hubungan secara khusus dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Jumlah Jam keperawatan yang dibutuhkan klien perhari untuk waktu keperawatan langsung (rata rata 4 - 5 jam/klien/hari). Berdasarkan tingkat ketergantungan pasien padfa perawat maka dapat diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu: self care, partial care, total care dan intensive care.

Menurut Minetti Huchinson (1994) Kebutuhan Keperawatan Langsung setiap pasien adalah empat jam perhari sedangkan untuk :
* Self Care dibutuhkan ½ x 4 jam : 2 jam
* Partial Care dibutuhkan ¾ x 4 jam : 3 jam
* Total Care dibutuhkan 1- 1½ x 4 jam : 4 - 6 jam
* Intensive Care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam

·         Perawatan tak langsung, meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan, memasang/ menyiapkan alat, konsultasi dengan anggota tim, menulis dan membaca catatan kesehatan, melaporkan kondisi pasien. Dari hasil penelitian sebagai berikut :
-    RS Graha Detroit (Gillies, 1989, hal. 245) = 38 menit/ klien/ hari, sedangkan
-    Menurut Wolfe & Young (Gillies, 1989, hal. 245) = 60 menit/ klien/ hari
-    Penelitian di Rumah Sakit John Hpokins dibutuhkan 60 menit/pasien (Gillies, 1994)

·         Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi : aktifitas, pengobatan serta tindak lanjut pengobatan.
-    Menurut Mayer dalam Gillies (1994), waktu yang dibutuhkan untuk pendidikan kesehatan / penyuluhan kesehatan  ialah 15 menit/klien/hari = 0,25 jam/klien/hari
-    Rata-rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatu unit berdasarkan rata-ratanya atau menurut “Bed Occupancy Rate” (BOR) dengan rumus :

§  Jumlah hari pertahun, yaitu 365 hari.
§  Hari libur masing-masing perawat pertahun, yaitu 128 hari, hari minggu = 52 hari dan hari sabtu  = 52 hari. Untuk hari sabtu tergantung kebijakan RS setempat, kalau ini merupakan hari libur maka harus diperhitungkan, begitu juga sebaliknya, hari libur nasional = 12 hari dan cuti tahunan = 12 hari.
§  Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja efektif 5 hari maka 40/5 = 8 jam, kalu hari kerja efektif 6 hari per minggu maka 40/6 jam = 6,6 jam perhari)
§  Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan di satu unit harus ditambah 20% (untuk antisiapasi kekurangan/cadangan)
§  Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional = 55% : 45 %

v  METODE SWANSBURG


Menurut Warstler dalam Swansburg dan Swansburg (1999), merekomendasikan untuk pembagian proporsi dinas dalam satu hari → pagi : siang : malam = 47 % : 36 % : 17 %, sehingga jika jumlah total staf keperawatan /hari = 14 orang.
*Pagi : 47% x 14 = 6,58 = 7 orang
*Sore : 36% x 14 = 5,04 = 5 orang
* Malam : 17% x 14 = 2,38 = 2 orang

v  METODE NINA
Nina (1990) menggunakan 5 tahapan dalam menghitung kebutuhan tenaga adalah sebagai berikut :
1)      Tahap I à Hitung A : Jumlah jam perawatan dalam 24 jam per pasien.
2)      Tahap II àHitung B : A x TT.
3)      Tahap III àHitung C : Jumlah jam perawatan seluruh pasien selama 1 tahun. (C = B x 365)
4)      Tahap IV à Hitung D : Jumlah perkiraan realistis jam perawatan yang perawatan yang dibutuhkan selama 1 tahun.(D = C x BOR / 80)
5)      Tahap V à Diperoleh E : Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan. (E = D / 1878)
§ Hari efektif – 52 dan jam kerja.
§ Efektif per hari (8 – 2 jam).




v  METODE HASIL LOKAKARYA KEPERAWATAN
Menurut hasil lokakarya keperawatan (Depkes RI, 1989), rumusan yang dapat digunakan untuk perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan adalah sebagai berikut :


Prinsip perhitungan rumus ini adalah sama dengan rumus dari Gillies (1989) diatas, tetapi ada penambahan pada rumus ini yaitu 25% untuk penyesuaian (sedangkan angka 7 pada rumus tersebut adalah jumlah hari selama satu minggu).

v  METODE RASIO
Metode ini menggunakan jumlah tempat tidur sebagai denominator personal yang diperlukan. Metode ini paling sering digunakan karena sederhana dan mudah. Metode ini hanya mengetahui jumlah personal secara total tetapi tidak bisa mengetahui produktivitas SDM rumah sakit, dan kapan personal tersebut dibutuhkan oleh setiap unit atau bagian rumah sakit yang mebutuhkan. Bisa digunakan bila : kemampuan dan sumber daya untuk perencanaan personal terbatas, jenis, tipe, dan volume pelayanan kesehatan relatif stabil.
Tujuan dari metode ini adalah merencanakan kebutuhan tenga kesehatan dengan membandingkan ketersediaan tempat tidur di unit-unit perawatan sesuai dengan tipe institusi layanan kesehatan yang tersedia. Cara perhitungan ini masih ada yang menggunakan, namun banyak rumah sakit yang lambat laun meninggalkan cara ini karena adanya beberapa alternatif perhitungan yang lain yang lebih sesuai dengan kondisi rumah sakit dan profesional.
Cara rasio yang umumnya digunakan adalah berdasarkan surat keputusan Menkes R.I. Nomor 262 tahun 1979 tentang ketenagaan rumah sakit, dengan standar sebagai berikut :
ü  Peraturan Menkes RI No. 262/Menkes/Per/VII/1979
Tipe RS
TM/TT
TPP/TT
TPNP/TT
TNM/TT
A dan B
1 / (4 – 7)
(3 – 4) / 2
1 / 3
1 / 1
C
1 / 9
1 / 1
1 / 5
3 / 4
D
1 / 15
1 / 2
1 / 6
2 / 3
Khusus
Disesuaikan
Disesuaikan
Disesuaikan
Disesuaikan
Keterangan :
TM = Tenaga Medis
TT = Tempat Tidur
TPP = Tenaga Para Medis Perawatan
TPNP = Tenaga Para Medis Non Perawatan
TNP = Tenaga Non Medis




B.     RAWAT JALAN

v  METODE STANDAR KETENAGAAN PERAWAT DAN BIDAN DI RUMAH SAKIT
Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga perawat dan bidan menurut direktorat pelayanan keperawatan Dirjen Yan-Med Depkes RI (2001) dengan memperhatikan unit kerja yang ada pada masing-masing rumah sakit.
Model pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Dasar perhitungan jumlah tenaga untuk Rawat Jalan adalah sebagai berikut :
a)      rata-rata jumlah pasien perhari
b)      Jumlah jam perawatan perhari

*      Formula Rawat Jalan :


v  METODE NEED
Cara ini dihitung berdasarkan kebutuhan menurut beban kerja yang diperhitungkan sendiri dan memenuhi standar profesi. Untuk menghitung seluruh kebutuhan tenaga, diperlukan terlebih dahulu gambaran tentang jenis pelayanan yang diberikan kepada klien selama di Rumah Sakit. Diskripsi tentang pelayanan yang diberikan kepada pasien. Misalnya saja untuk klien yang berobat jalan, ia akan melalui/mendapatkan pelayanan, antara pembelian karcis, pemeriksaan perawat/dokter, penyuluhan, pemeriksaan laboratorium, apotik dan sebagainya. Kemudian dihitung standar waktu yang diperlukan agar pelayanan itu berjalan dengan baik. (Hudgin’s 82).
Menurut Hundgins (1992) menggunakan standar waktu pelayanan pasien adalah sebagai berikut :
Tugas
Lama waktu (menit) untuk Pasien
Baru
Lama
Pendaftaran
3
4
Pemerikasaan dokter
15
11
Pemeriksaan asisten dokter
18
11
Penyuluhan
51
0
Laboratorium
5
7







C.    UNIT GAWAT DARURAT (UGD)

v  METODE STANDAR KETENAGAAN PERAWAT DAN BIDAN DI RUMAH SAKIT
Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga perawat dan bidan menurut direktorat pelayanan keperawatan Dirjen Yan-Med Depkes RI (2001) dengan memperhatikan unit kerja yang ada pada masing-masing rumah sakit. Model pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Dasar perhitungan jumlah tenaga di Unit Gawat Darurat adalah sebagai berikut :
a)      Rata-rata jumlah pasien perhari
b)      Jumlah jam perawatan perhari
c)      Jam efektif perhari

*      Formula Unit Gawat Darurat (UGD) :





Keterangan :
TP = Tenaga perawat
365 = Jumlah hari kerja
255 = Hari kerja efektif perawat/tahun
D = Jam keperawatan
A1 = Waktu perawatan untuk pasien gawat darurat (87 menit)
A2 = Waktu perawatan untuk pasien kasus mendesak (71 menit)
A3 = Waktu perawatan untuk pasien kasus tidak mendesak (34 menit)
Adm time = Waktu administrasi yang dibutuhkan untuk penggantian sif selama 45 menit

v  METODE DEMAND
Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga mennurut kegiatan yang memang nyata dilakukan oleh perawat. Konversi Kebutuhan Tenaga adalah seperti pada perhitungan cara Need.

Menurut Tutuko (1992) setiap klien yang masuk Ruang Gawat Darurat dibutuhkan waktu sebagai berikut :
* Untuk Kasus Gawat Darurat : 86,31 menit à 87 menit
* Untuk Kasus Mendesak : 71,28 menit à 71 menit
* Untuk Kasus Tidak Mendesak : 33,69 menit à 34 menit

Menurut Depkes Filipina (1984) kebutuhan pasien adalah sebagai berikut :
Jenis Pelayanan
Rata-rata jam perawatan/ pasien/hari
Non Bedah (Interna)
3,4 jam
Bedah
3,5 jam
Campuran Bedah dan Non Bedah (Interna)
3,5 jam
Post Partum
3,0 jam
Bayi Baru Lahir
2,5 jam
Anak – anak
4,0 jam

Menurut Althaus et al 1982 dan Kirk 1981 adalah sebagai berikut :
§ Level I (Minimal) : 3,2 jam.
§ Level II (Intermediate) : 4,4 jam.
§ Level III (Maksimal) : 5,6 jam.
§ Level IV (Intensif Care) : 7,2 jam.
Catatan : BOR = * PT * TT


D.    KAMAR OPERASI

v  METODE STANDAR KETENAGAAN PERAWAT DAN BIDAN DI RUMAH SAKIT
Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga perawat dan bidan menurut direktorat pelayanan keperawatan Dirjen Yan-Med Depkes RI (2001) dengan memperhatikan unit kerja yang ada pada masing-masing rumah sakit. Model pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Dasar perhitungan jumlah tenaga di Kamar Operasi adalah sebagai berikut :
a)      Jumlah dan jenis operasi
b)      Jumlah kamar operasi
c)      Pemakain kamar operasi (diprediksi 6 jam perhari) pada hari kerja
d)     Tugas perawat di kamar operasi: instrumentator, perawat sirkulasi (2 orang/tim)
e)      Tingkat ketergantungan pasien :
Ø  Operasi Besar : 5 jam/1operasi
Ø  Operasi Sedang : 2 jam/1operasi
Ø  Operasi Kecil : 1 jam /1operasi

*      Formula Kamar Operasi :
                                                           




2.      Buat Perhitungan Kebutuhan Tenaga Perawat di Satu Ruangan dengan :
·   Kapasitas TT 19
·   BOR 80 %
·   Kategori pasien :
·   Mandiri 2 jam
·   Sebagian 3 jam
·   Total 5 jam

Jawaban :

Dik      :
-          Kapasitas Tempat Tidur (TT) : 19 TT
-          BOR : 80 %
-          Kategori pasien : Mandiri 2 jam, Sebagian 3 jam, Total 5 jam

Dit       : Kebutuhan Tenaga Perawat di Satu Ruangan ?

Penyelesaian   :

v  Sensus Harian = BOR x Jumlah TT
                          = 80 % x 19 TT
                          = 15,2 à 15 Orang/hari
v  Kriteria klien yang dirawat tersebut adalah :
§ 5 orang klien dapat melakukan Perawatan Mandiri,
§ 5 orang klien perlu diberikan Perawatan Sebagian, dan
§ 5 orang klien lainnya harus diberikan Perawatan Total
v  Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah kebutuhan tenaga perawat di satu ruangan adalah sebagai berikut :
a)      Menetukan terlebih dahulu jam keperawatan yang dibutuhkan klien perhari :
§ Keperawatan Langsung
                                                  i.      Keperawatan Mandiri 5 orang klien : 5 x 2 jam = 10 jam
                                                ii.      Keperawatan Sebagian 5 orang klien : 5 x 3 jam = 15 jam
                                              iii.      Keperawatan Total 5 orang klien : 5 x 5 jam = 25 jam
§ Keperawatan Tidak Langsung 15 orang klien : 5 x 1 jam = 15 jam
§ Penyuluhan Kesehatan 15 orang klien : 15 x 0,25 jam = 3,75 jam
*      Total Jam Keperawatan secara keseluruhan :
(10 + 15 + 25 + 15 + 37,5) Jam = 68,75 Jam

b)      Menetukan jumlah jam keperawatan per klien perhari adalah :
73,75 jam / 15 klien = 4,6 Jam



c)      Menetukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan di satu ruangan adalah :
Gillies (1989) mengemukakan rumus kebutuhan tenaga keperawatan di satu unit perawatan adalah sebagai berikut :


Keterangan :
A = Rata-rata Jumlah Perawatan / Pasien / Hari
B = Rata-rata Jumlah Pasien / Hari
C = Jumlah Hari / Tahun
D = Jumlah Hari Libur Masing-masing Perawat
E = Jumlah Jam Kerja Masing-masing Perawat

Jawab :

Dik :
v  Jumlah perawatan / pasien / hari adalah 6 hari
v  Jumlah pasien / hari adalah 15 orang klien
v  Jumlah hari / tahun adalah 365 hari
v  Hari libur masing-masing perawat pertahun adalah 128 hari
v  Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam perminggu





Jadi, Jumlah Kebutuhan Tenaga Perawat di Satu Ruangan adalah 4 Orang Perawat
 

2 komentar:

  1. maaf, rumus untuk rawat jalan menurut direktorat jendral gak muncul,,

    BalasHapus
  2. 1) Rumus 2) Pembilang Jumlah kunjungan pasien maskin selama 1 tahun (lama dan baru). 3) Penyebut Jumlah seluruh maskin di wilayah kerja dalam kurun waktu yang sama. 4) Ukuran/Konstanta Persentase (%) 5) Contoh Perhitungan Jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap maskin yang mendapat perawatan di Puskesmas dan klinik di Kabupaten A = 12.000 orang Jumlah seluruh maskin di Kabupaten A = 150.000 orang Persentase cakupan pelayanan kesehatan dasar = 12.000 x 100 % = 8 %. 150.000 d. Sumber Data Laporan Puskesmas . Laporan Dinas Kesehatan Kab/Kota e. Rujukan 1) Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat, 2008 2) Pedoman Unit Cost Pemberi Pelayanan Kesehatan, 2007 3) Pendataan Sosial Ekonomi 2005, Badan Pusat Statistik, 2006 Cakupan pelayanan kesehatan dasar = maskin Jumlah kunjungan pasien maskin di Sarkes strata 1 x 100 % Jumlah seluruh maskin di kab/kota

    BalasHapus