Sabtu, 11 Mei 2013

Tugas Komunitas tentang kehamilan remaja



1.   Jelaskan pengertian kehamilan remaja?
2.   sebutkan penyebabnya?
3.   masalah yang dapat terjadi (actual dan potensial)?
4.   Buatlah program promosi (pencegahan)?
5.   buatlah asuhan keperawatan keluarga?

Jawab
1.   Kehamilan remaja adalah suatu keadaan dimana seseorang remaja yang mengalami kehamilan, kehamilan yang terjadi pada saat seseorang masih dalam usia remaja. Kadang kehamilan terjadi adalah kehamilan yang belum diinginkan atau bisa dikatakan akibat sex bebas, tapi kadang juga karena menikah muda. Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada wanita usia antara 14–19 tahun baik melalui proses pra nikah atau nikah. Hamil di luar nikah yang terjadi pada remaja di Indonesia yang pemerintahannya tidak peduli dengan masyarakat belum bergerak secara signifikan dalam masalah ini, akan menimbulkan hal-hal yang lebih besar di kemudian hari. Hal masa depan pun menjadi masalah misalnya malu terhadap teman, lingkungan dan juga masa remaja yang sudah musnah.
2.   Jelas, hanya ada satu penyebab kehamilan remaja dan itu adalah melalui hubungan seksual. Itu tentu saja bisa disalahkan pada tidak menggunakan perlindungan dan alasan lain tapi intinya adalah bahwa penyebab kehamilan remaja. Banyak factor yang menyebabkan seseorang remaja hamil diluar nikah. Namun, beberapa factor berikut ini bisa dijadikan acuan sebagai penyebab terjadinya kehamilan remaja, yakni:
Ø Hubungan seksual pada masa subur. Faktor pertama dan utama yang menyebabkan seorang remaja hamil adalah hubungan seksual pada masa subur. Kehamilan tidak ada kaitannya dengan frekuensi hubungan atau factor orgasme. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa setiap remaja perempuan yang sehat sangat berpotensi hamil jika ia melakukan hubungan seksual pada masa subur.
Ø Renggangnya hubungan orang tua dengan remaja. Renggangnya hubungan emosional antara anak remaja denga kedua orang tuanya sangat berpotensi menyebabkan anak remaja mereka hamil diluar nikah. Adanya jarak emosional dengan orang tua menyebabkan banyak remaja tidak berani mendiskusikan masalah seksual mereka dengan orang tuanya. Sebaliknya, mereka justru sering kali diam-diam mencari informasinya di luar rumah yang kebenarannya belum tentu dapat dipertanggung jawabkan. Berbahaya sekali jika mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mencari “kesempatan dalam kesempitan”, dapat dipastikan mereka akan menjadi korban petualangan mereka.
Ø Rendahnya interaksi ditengah-tengah keluarga. Rendahnya interaksi antara orang tua dengan anak remajanya dapat pula menyebabkan remaja hamil diluar nikah. Dapat dibayangkan jika orang tua jarang bertemu dan berbicara dari hati ke hati dengan putrid remajanya, pasti banyak masalah yang berkaitan dengan sex dan seksualitas mereka yang tidak pernah terungkap atau diungkapkan sehingga menjadi “bom waktu” yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan apa saja disekelilingnya.
Ø Keluarga yang tertutup terhadap informasi seks dan seksualitas. Keluarga yang tertutup diri terhadap segala sesuatu yang berkaitan seks dan seksualitas sebenarnya rawan terhadap berbagai tindak penyelewengan dan penyalahgunaan seksual. Banyak kasus pelecehan seksual atau perkosaan justru terjadi di tengah-tengah keluarga yang tertutup atau menutup diri terhadap informasi seks dan seksualitas.
Ketertutupan menyebabkan pelecehan berjalan dengan mulus dan aman karena korban pelecehan atau dengan mulus dan aman karena korban pelecehan atau pemerkosaan biasanya menyimpan rapt kasus tersebut sehingga pelaku meras aman untuk melangsungkan dan mengulangi perbuatannya. Itulah sebabnya, di dalam keluarga yang tertutup terhadap sek dan seksualitas sering kali justru dikejutkan oleh adanya putrid remaja mereka yang hamil diluar nikah.
Ø Menaburkan seks dan seksualitas. Banyak keluarga yang menaburkan seks dan seksualitas seakan-akan masalah tersebut sacral sehingga tabu untuk dibicarakan di tengah-tengah keluarga. Banyak pula orang tua yang masih percaya terhadap pendapat yang mengatakan bahwa membicarakan masalah seksual di tengah-tengah keluarga bisa mendatangkan kutuk, tulah, ataua bentuk-bentuk hukuman irasional lainnya. Padahal, masalah seksual tidak diselesaikan dengan penjelasan irasional, melainkan tindakan rasional.
Ø Kesibukan orang tua. Kesibukan adalah alas an paling klasik dan paling sering diajukan para orang tua untuk membela diri jika tiba-tiba putrid remaja mereka hamil. Kesibukan orang tua memang sangat berpotensi sebagai pemicu kehamilan remaja. Hal ini disebabkan hilangnya kesempatan antara orang tua – anak remaja untuk saling bertukar pikiran sekaligus membahas persoalan seks dan seksualitas mereka.
Ø Faktor Agama dan Iman. Kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami isteri di luar nikah sehingga terjadi kehamilan, pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab.
Ø Faktor Lingkungan
1) Orang Tua. Kurangnya perhatian khususnya dari orang tua remaja untuk dapat memberikan pendidikan seks yang baik dan benar. Dimana dalam hal ini orang tua bersikap tidak terbuka terhadap anak bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah seksual.
2)   Teman, Tetangga dan Media. Pergaulan yang salah serta penyampaian dan penyalahgunaan dari media elektronik yang salah. Dapat membuat para remaja berpikiran bahwa seks bukanlah hal yang tabu lagi tapi merupakan sesuatu yang lazim
Ø Pengetahuan yang minim. Pengetahuan remaja yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan
Pengetahuan seksual yang setengah-setengah mendorong gairah seksual sehingga tidak bisa dikendalikan. Hal ini akan meningkatkan resiko dampak negatif seksual. Dalam keadaan orang tua yang tidak terbuka mengenai masalah seksual, remaja akan mencari informasi tersebut dari sumber yang lain, teman-teman sebaya, buku, majalah, internet, video atau blue film. Mereka sendiri belum dapat memilih mana yang baik dan perlu dilihat atau mana yang harus dihindari.
Ø Perubahan zaman. Pada zaman modern sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama, seperti fashion dan film yang begitu intensif sehingga remaja dihadapkan ke dalam gaya pergaulan hidup bebas, termasuk masalah hubungan seks di luar nikah.
Ø Perubahan Kadar Hormon pada remaja. Meningkatkan libido atau dorongan seksual yang membutuhkan penyaluran melalui aktivitas seksual.
Ø Semakin cepatnya usia pubertas. Semakin cepatnya usia pubertas (berkaitan dengan tumbuh kembang remaja), sedangkan pernikahan semakin tertunda akibat tuntutan kehidupan saat ini menyebabkan “masa-masa tunda hubungan seksual” menjadi semakin panjang. Jika tidak diberikan pengarahan yang tepat maka penyaluran seksual yang dipilih beresiko tinggi.
Ø Adanya Trend baru dalam berpacaran di kalangan remaja. Dimana kalau dulu melakukan hubungan seksual diluar nikah meskipun dengan rela sendiri sudah dianggap bebas. Namun sekarang sudah pula bergeser nilainya, yang dianggap seks bebas adalah jika melakukan hubungan seksual dengan banyak orang.

3.      Masalah yang akan terjadi:
a. Keguguran. Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
b. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan. Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri. Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat bawaan.
c. Mudah terjadi infeksi. Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas.
d. Anemia kehamilan / kekurangan zat besi. Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis..
e. Keracunan Kehamilan (Gestosis). Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.
f. Kematian ibu yang tinggi. Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun).
Menurut Bolton (1980) ada berbagai dampak yang dialami akibat kehamilan diantaranya adalah :
a.       Terhambatnya tugas perkembangan
Banyak tugas perkembangan yang tidak dapat diselesaikan oleh remaja akibat kehamilan. Bahkan ada tugas-tugas yang akan dilewati begitu saja akibat tuntutan untuk menjalankan peran barunya sebagai orang dewasa, padahal dalam perkembanganya yang normal remaja harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, bisa memasuki tahap perkembangan selanjutnya.
b.      Disfungsi keluarga
Sebagai anggota keluarga, remaja yang hamil seringkali dianggap sebagai pembawa krisis atau permasalahan dalam keluarga. Permasalahan ini tidak bisa dielakan dan menuntut adanya penyesuaian dari seluruh anggota keluarga, dan sangat potensial untuk menimbulkan konflik dan stress.
c.       Resiko kesehatan
Dalam menjalani masa kehamilan, remaja mempunyai beberapa tugas berkaitan dengan perawatan dirinya. Hal ini seringkali melelahkan dan menjadi beban sehingga remaja tidak mengindahkan beberapa hal yang penting berkaitan dengan perawatan kehamilanya. Hal ini cukup beresiko bagi kelangsungan hidup remaja tersebut dan bayi dikandungnya.
d.      Konflik emosional
Konflik yang dialami akan meningkatkan pada saat terjadinya interaksi antara tuntutan dari lingkungan sosial remaja dengan kewajibanya untuk mengasuh anak. Sebagai remaja kebutuhan bersosialisasi masih tinggi, karena itu pekerjaan merawat anak seringkali dirasakan membebani dan mengganggu dunia remajanya.
e.       Defisiensi dalam bidang pendidikan dan pekerjaan
Santrock (1996) menyatakan bahwa remaja yang kehamilan umumnya terhambat dalam hal pendidikan. Walaupun mereka akhirnya meneruskan pendidikan tetapi mereka tetap tidak bisa menyamai remaja pada umumnya.
4.   Promosi
Strategi Untuk Mengurangi Kehamilan Remaja
Adapun beberapa strategi yang dapat mengurangi kehamilan remaja antara lain :
a.      Mengurangi Kemiskinan
Angka kehamilan remaja paling tinggi terdapat di daerah-daerah yang keadaan sosial ekonominya kurang. Strategi yang menurunkan kemiskinan dan memperbaiki prospek sosial ekonomi keluarga muda ini besar kemungkinannya akan menurunkan angka kehamilan remaja
b.      Memperbaiki penyediaan kontrasepsi
Layanan yang menawarkan kontrasepsi sebaiknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan kaum muda, disertai ekspansi lokal fasilitas-fasilitas yang ditujukan bagi mereka. Kontrasepsi darurat harus lebih mudah diperoleh, dan para remaja harus diberi tahu mengenai pengggunaannya. Harus disediakan suatu layanan terpadu yang menawarkan layanan kesehatan umum dan seksual bagi kaum muda, dan layanan tersebut harus diberitahukan secara luas.
c.       Mengincar kelompok beresiko tinggi
Kelompok-kelompok tertentu kaum muda lebih besar kemungkinannya hamil pada usia remaja, sehingga mereka dapat dipilih untuk menjadi sasaran. Kelompok ini mungkin mencakup remaja yang diasuh oleh negara, remaja yang tidak memiliki rumah, remaja yang tinggal dilingkungan yang sosial ekonominya lemah, dan remaja yang mereka sendiri adalah anak dari orangtua remaja
d.      Meningkatkan pendidikan
Pendidikan seks di sekolah berperan penting dalam menurunkan kehamilan remaja. Program pendidikan seks lebih besar kemungkinannya berhasil apabila terdapat pendekatan terpadu antara sekolah dan layanann kesehatan.
e.       Pembinaan bagi remaja
Bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja, disamping menangani masalah yang ada. Pembekalan pengatahuan yang diperlukan remaja meliputi :
1)      Perkembangan fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual remaja
Pembekalan pengetahuan tentang perubahan yang terjadi secara fisik, kejiwaan dan kematangan seksual akan memudahkan remaja untuk memahami serta mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya. Informasi tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan, serta tentang kontrasepsi perlu diperoleh setiap remaja.
2)      Proses reproduksi yang bertanggung jawab
Manusia secara biologis mempunyai kebutuhan seksual. Remaja perlu mengendalikan naluri seksualnya dan menyalurkannya menjadi kegiatan yang positif, seperti olahraga, dan mengembangkan hobi yang membangun.
3)      Pergaulan yang sehat
Remaja memerlukan pembekalan tentang kiat-kiat untuk mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan seksual dan penggunaan NAPZA.
4)      Persiapan Pra nikah
Diperlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan keluarga.
5)      Kehamilan dan persalinan
Diberikan pembekalan mengenai hal-hal yang menyangkut kehamilan termasuk asupan gizi Ibu dan dampak-dampak dari kehamilan serta pembekalan dalan menghadapi persalinan yang akan terjadi.
.     Memperkenalkan pada keluarga tentang fase perkembangan remaja dan tugas perkembangan anak remaja.
2.     Memperkenalkan pada keluarga tentang tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja.
3.     Menjelaskan tentang fungsi seksual, perubahan fisik yang dapat mempengaruhi psikologis dan sosial remaja.
4.     Memotivasi keluarga untuk memperkenalkan kesehatan reproduksi remaja sesuai dengan norma dan budaya dan tingkat pengetahuan yang dimiliki keluarga.
5.     Memperkenalkan sejak usia sekolah tentang kehamilan sebagai perubahan dalam kehidupan agar dapat bertanggung jawab.
6.     Membiasakan komunikasi terbuka.
7.     Memberi kesempatan pada remaja mendapat pengalaman sosial, emosional dan situasi etis  untuk meningkatkan proses belajar dan otonomi dan tanggung jawab.
8.     Memperkenalkan tempat layanan kesehatan yang dibutuhkan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar