Sabtu, 11 Mei 2013

Proposal HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN YANG TEPAT DAN ASUPAN NUTRISI YANG CUKUP TERHADAP PROSES PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA POST OPERASI LAPARATOMI



BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Laparatomi adalah salah satu jenis operasi yang di lakukan pada daerah abdomen. Operasi laparatomy di lakukan apabila terjadi masalah kesehatan yang berat pada area abdomen, misalnya trauma abdomen.
Laparotomi berasal dari dua kata terpisah, yaitu laparo dan tomi. Laparo sendiri berati perut atau abdomen sedangkan tomi berarti penyayatan. Sehingga laparotomi dapat didefenisikan sebagai penyayatan pada dinding abdomen atau peritoneal. Istilah lain untuk laparotomi adalah celiotomi.( Fossum, 2002).
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait. Dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara team kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anestesi dan perawat) disamping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperatif. (Randhianto, 2008)
Hasil survey di RSSA diperoleh data bahwa selama tahun 2004, jumlah pasien yang menjalani pembedahan adalah sebanyak 5897 pasien, dimana dari 10 penyakit terbanyak di ruang bedah, diketahui bahwa 12,33% adalah penyakit yang membutuhkan bedah digestif. Penanganan diet yang diberikan tergantung dari kondisi pasien serta jenis pembedahan yang akan dijalani (Astri, 2006).
Pembedahan menyebabkan terjadinya gangguan faal organ vital, terjadi juga perubahan metabolisme dan perubahan pada jaringan (Sjamsuhidajat, 1997). Stress merupakan fenomena yang sering dijumpai pada pasien bedah (Sabiston, 1995). Pembedahan dapat menyebabkan anoreksia atau restriksi intake makanan dalam beberapa hari/ minggu, menurunnya status gizi dan kehilangan berat badan. Dalam beberapa kasus, dapat terjadi vomiting, diare dan pendarahan yang dapat menyebabkan kehilangan natrium, klorida, kalium, dan zat besi. Apabila malabsorbsi terjadi dalam jangka waktu yang panjang, pasien dapat kekurangan protein mineral dan vitamin lainnya (Krause, 2004)
Rata-rata 75 % status gizi pasien yang dirawat di RS akan menurun dibandingkan dengan status gizi waktu masuk perawatan. Penurunan ini menyebabkan angka mortalitas naik dan menyebabkan lamanya perawatan di RS (Rahmad Soegih, 1997). Salah satu pasien yang rentan terhadap malnutrisi adalah pasien kasus bedah saluran pencernaan (Toar JM Lalisang, 1997).
Kondisi pasien seringkali semakin memburuk karena tidak diperhatikan keadaan gizinya. Protein Energy Malnutrision (PEM) sering dijumpai pada bangsal-bangsal bedah. Pada masa perwatan yang memanjang akibat komplikasi pasca bedah, PEM telah didokumentasikan pada lebih dari 50% pasien (Hill, Blackert dkk, 1997). Pengaturan makanan setelah operasi perlu diperhatikan karena biasanya setelah menjalani operasi, penderita masih merasakan sakit pada tempat operasi hingga timbul perasaan takut untuk makan karena takut sakit. Biasanya setelah operasi pasien boleh makan makanan cair. Makanan cair dapat berupa susu, tapi tidak boleh terlalu panas. Makanan dalam suhu dingin lebih baik karena dapat mempercepat berhentinya pendarahan. Setelah tahap makanan cair, dapat diberikan makanan dalam bentuk saring bertahap ke makanan lunak dan kembali seperti semasa sehat, sesuai kemampuan pasien menerima makanan (Sita, 2005). Pasien memulai makan jika ada tanda-tanda berupa flatus dan adanya bising usus. Tetapi meskipun belum ada tanda-tanda tersebut, pasien masih diperbolehkan minum sedikit dengan memberikan glukose 5%. Setelah pasien boleh makan, makanan yang diberikan rumah sakit adalah cair rendah sisa. Sebelum mengganti makanan dari cair rendah sisa ke cair biasa, yang dilihat adalah fesesnya. Jika dirasa berangsur-angsur membaik, pasien dapat diberikan diet pasca bedah selanjuynya. Pemberian makanan dengan konsistensi yang berbeda disesuaikan dengan kondisi fisik klinis pasien.
Dari masalah diatas Dari permasalahan tersebut diatas, peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul ”HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN YANG TEPAT DAN ASUPAN NUTRISI YANG CUKUP TERHADAP PROSES PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA POST OPERASI LAPARATOMI”.
1.2     Rumusan Masalah
a.    Apakah ada hubungan konsumsi makanan yang tepat terhadap proses percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi?
b.   Apakah ada hubungan pemberian nutrisi yang tepat dan cukup dalam proses percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi?

1.3           Tujuan
1.3.1     Tujuan Umum
Meningkatkan kesadaran diri pasien operasi laparatomi agar tingkat percepatan luka bekas operasi segera sembuh setelah operasi.

1.3.2        Tujuan Khusus
a.       Memperkecil terjadinya komplikasi yang akan muncul akibat pembedahan dengan konsumsi makanan yang tidak sesuai dengan anjuran dokter.
b.      Mempercepat proses penyembuhan luka bekas operasi laparatomi dengan konsumsi makanan yang tepat dan asupan nutrisi yang cukup sesuai anjuran dokter.

1.4 Manfaat
Agar membantu pasien dalam penyembuhan bekas luka operasi yang pasien alami, agar lebih cepat pulih dan kembali ke keadaan sebelumnya dan juga agar meningkatkan kesadaran pasien atas pentingnya mengikuti sesuai anjuran dokter, karena semua itu adalah demi kepentingan pasien untuk kesembuhan pasien.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian
Post op atau Post operatif Laparatomi merupakan tahapan setelah proses pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry dan Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2 tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase post operatif. Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi. Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang di berikan kepadaklien yang telah menjalani operasi pembedahan abdomen.
Laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus. (Arif Mansjoer, 2000). Laparatomi adalah prosedur tindakan pembedahan dengan membuka cavum abdomen dengan tujuan eksplorasi.
Laparatomi yaitu insisi pembedahan melalui pinggang (kurang begitu tepat), tapi lebih umum pembedahan perut (Harjono. M, 1996). Pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus. (Arif Mansjoer, 2000). Ramali Ahmad (2000) mengatakan bahwa laparatomy yaitu pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi.  Sedangkan menurut Sanusi (1999), laparatomi adalah insisi pembedahan melalui dinding perut atau abdomen.

2.1.2 Jenis Laparotomi
a.      Menurut Tekhnik Pembedahan
1.   Insisi pada garis tengah abdomen (mid-line incision)
a)      Paparan bidang pembedahan yang baik
b)      Dapat diperluas ke cephalad ( ke arah “kranial” )
c)      Penyembuhan dan kosmetik tidak sebaik insisi tranversal
d)     Dipilih cara ini bila insisi tranversal diperkirakan tidak dapat memberikan paparan bidang pembedahan yang memadai
e)      Dipilih pada kasus gawat-darurat

2.   Insisi pada garis tranversal abdomen (Pfannenstiel incision).
Sering digunakan pada pembedahan obstetri dan ginekologi.
Keuntungan:
a)   Jarang terjadi herniasi pasca bedah
b)   Kosmetik lebih baik
c)   Kenyamanan pasca bedah bagi pasien lebih baik
Kerugian:
a)   Daerah pemaparan (lapangan operasi) lebih terbatas
b)   Tehnik relatif lebih sulit
c)   Perdarahan akibat pemisahan fascia dari lemak lebih banyak
Jenis insisi tranversal :
a)   Insisi pfannenstiel :
1)   Kekuatan pasca bedah : baik
2)   b.Paparan bidang bedah : kurang
b)   Insisi maylard :
1)      Paparan bidang bedah lebih baik dibanding pfannenstiel oleh karena dilakukan pemotongan pada m.rectus abdominalis dan disisihkan ke arah kranial dan kaudal
2)      Dapat digunakan untuk melakukan diseksi Lnn. Pelvik dan Lnn.Paraaortal
3)      Dibanding insisi midline :
§  Nyeri pasca bedah kurang.
§  Penyembuhan lebih kuat dan pelekatan minimal namun
§  Ekstensi ke bagian kranial sangat terbatas sehingga akses pada organ abdomen bagian atas sangat kurang.
c)   Insisi cherney :
1)   Perbedaan dengan insisi maylard : pemotongan m.rectus dilakukan pada origo di simfisis pubis.
2)   Penyembuhan bedah dengan kekuatan yang baik dan paparan bidang pembedahan terbatas.
d)  Paramedian, yaitu sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
e)   Transverse upper abdomen incision, yaitu insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
b.      Jenis Laparatomi Menurut Indikasi
1)      Adrenalektomi: pengangkatan salah satu atau kedua kelenjar adrenalin
2)      Apendiktomi: operasi pengangkatan apendiks
3)      Gasterektomi: pengangkatan sepertiga distal lambung (duodenum/jejunum, mengangkat sel-sel penghasil gastrin dalam bagian sel parietal)
4)      Histerektomi: pengangkatan bagian uterus
5)      Kolektomi: seksisi bagian kolon atau seluruh kolon
6)      Nefrektomi: operasi pengangkatan ginjal
7)      Pankreatomi: pengangkatan pancreas
8)      Seksiosesaria: pengangkatan janin dengan membuka dinding ovarium melalui abdomen.
9)      Siksetomi: operasi pengangkatan kandung kemih
10)  Selfigo oofarektomi: pengangkatan salah satu atau kedua tuba valopi dan ovarium

2.1.3  Komplikasi post laparatomi
a.    Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.
b.    Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
c.     Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.



2.1.4        Proses penyembuhan luka
a.    Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
b.   Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
c.    Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
d.   Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.
Proses penyembuhan luka adalah proses terjadinya pembentukan jaringan baru atau granulasi dari jaringan yang terluka. Apa fungsi dari penjahitan? Fungsi penjahitan adalah untuk menyatukan ujung luka supaya penyembuhannya rapi, serta untuk menghentikan perdarahan jika ada.  Jaringan luka akan mudah sembuh jika daya tahan tubuh baik, gizinya tercukupi dan cukup mobilisasi/ aktifitas. Makan makanan bergizi, terutama yang kaya protein, karena protein adalah zat pembangun jaringan baru. Mengkonsumsi makanan kaya vitamin, terutama vitamin C, seperti buah2an dan sayur, bisa juga dengan suplemen vit C.



2.2 Kerangka Teori 




 

Makanan yang tepat
·      Sesuai anjuran dokter
Nutrisi
·      Kecukupan
·      Tinggi protein dan Vit C
Percepatan penyembuhan luka bekas operasi laparatomi

 













Gambar 1: Kerangka konsep

2.3 Kerangka Konsep
Variabel Indipenden
Konsumsi makanan yang tepat dan asupan nutrisi yang cukup
Variabel Dependen
Percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi
Variabel Moderator
v  Asupan nutrisi
v  Personal hygiene
v  Imunitas tubuh
v  Stres
v  Aktivitas
v  Perawatan Luka

Variabel Antara
v  Imunitas tubuh
v  Stres
v  Aktivitas

Variabel Kontrol
v  Asupan nutrisi
v  Personal hygiene
v  Perawatan Luka

 
















Gambar 2: Kerangka Konsep
2. 4 Hipotesa
Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis yang dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Dari suatu penelitian yang harus diuji kebenarannya melalui jalan riset. Dengan kata lain hipotesisi merupakan dugaan yang mungkin benar atau mungkin salah yang membutuhkan pembuktian atau diuji kebenarannya.
Dari gambaran diatas dapat diajukan hipotesisnya sebagai berikut :
a.    Ho       : Ada hubungan antara konsumsi makanan yang tepat terhadap proses percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi.
Ha       : Tidak ada hubungan antara konsumsi makanan yang tepat terhadap proses percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi.
b.   Ho       : Ada hubungan antara pemberian nutrisi yang tepat dan cukup dalam proses percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi.
Ha       : Tidak ada hubungan antara pemberian nutrisi yang tepat dan cukup dalam proses percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi.



















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Desain
Desain metode penelitian yang dipakai adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variable tertentu terhadap variable yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Tredapat empat bentuk metode eksperimen yaitu pre experimental, true experimental, factorial, dan quai experimental.
a.    Mengontrol makanan dan asupan nutrisi yang di konsumsi pasien sesuai dengan anjuran dokter
b.   Mengontrol tingkat personal hygine pasien
c.    Mengontrol perubahan dan percepatan penyembuhan luka bekas operasi

3.2  Populasi Dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmojo, 2005). Populasi yang diambil adalah seluruh pasien yang telah melakukan operasi laparatomi dan sedang dalam proses pyembuhan luka bekas operasi atau dalam perawatan post operasi laparotomi di RSUD Abepura.
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek atau yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo, 2005). Apabila populasi <100 harus diteliti semua, sedangkan populasi >100 dapat diambil 10-12% atau lebih. Sampel yang diambil pada penelitian ini yaitu 30 pasien post operasi laparatomi.

3.3 Variabel Penelitian
Variabel yang akan dikaji dalam penelitian ini terdiri atas:
a.    Variabel bebas/Indipenden
Variabel bebas adalah konsumsi makanan yang tepat dan asupan nutrisi yang cukup.
b.   Variabel terikat/dependen
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi.


c.    Variabel pengganggu
Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah asupan nutrisi, personal hiegene, imunitas tubuh, stress, aktivitas, dan perawatan luka.

3.4 Definisi Operasional Variabel
Variabel
Definisi
Cara Ukur
Alat
Hasil
Makanan yang tepat
Suatu bahan baik dari nabati maupun hewani yang di konsumsi oleh makhluk hidup untuk bertahan hidup dalam takaran konsumsi yang tepat tidak berlebih dan tidak kurang.
Melihat jumlah konsumsi makanan
Takaran makanan
Cukup
Kurang
Lebih

Nutrisi
Substansi organic yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari system tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan.
Makanan yang dikonsumsi
Kandungan dalam makanan
Banyak
Sedikit

Luka operasi
proses rusaknya komponen atau kesatuan jaringan, dimana secara spesifik terdapat tanda atau substansi jaringan yang rusak atau hilang akibat operasi
Tempat dilakukannya operasi
Besarnya sobekan operasi
Lebar
Sempit
Personal hygiene
Suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis
Melihat tingkat kebersihan diri
Kebersihan

Bersih
Kotor

Perawatan luka
Suatu tindakan yang dilakukan dalam upaya penyembuhan luka.
Melihat bagaimana cara merawat luka bekas operasinya
Rekam medik
Baik
Buruk


3.5 Tempat dan Waktu
a.    Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Abepura.
b.   Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 1 Bulan.

3.6 Alat ukur
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara membagikan quisioner kepada pasien dan mengamati proses penyembuhan luka pos operasi saat dalam perawatan di RS.

3.7  Pengolahan dan Analisis Data
Setelah data penelitian dikumpulkan selanjutnya data diolah dan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS untuk melihat adakah hubungan antara konsumsi makanan yang tepat dan asupan nutrisi yang cukup terhadap proses percepatan penyembuhan luka post operasi laparatomi.








DAFTAR PUSTAKA

Suyanto, S.Kep., M.Kes (2011). Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta. Muha Medika
Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II
Elhy. 2010. Post op Laparotomy, diakses pada 18 Januari 2013, http://semangateli.blogspot.com/2010/05/post-op-laparatomy.html
Anonim. 2011. ASKEP POST LAPARATOMI, diakses pada 18 Januari 2013, ttp://maidun-gleekapay.blogspot.com/2011/06/askep-post-laparatomi.html
Anonim. 2012. Cara Cepat Menyembuhkan Luka Operasi Caesar. Penyembuhan Pasca Operasi Caesar, diakses pada 19 Januari 2013, http://obat-alami.sedikitilmu.com/tag/cara-cepat-menyembuhkan-luka-operasi-caesar/
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta

Anonim. 2012. askep laparatomi, diakses pada 19 Januari 2013, http://chocolavt.blogspot.com/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar